Cintajakarta’s Weblog


JIKA RESTORAN TAK LAGI PERLU
Juli 24, 2008, 6:50 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , ,

Ekonomi memang lagi sulit, tapi yang namanya makan agaknya nggak ada kaitannya sama soal ekonomi. Buktinya belakangan ini restoran makin bejibun, rumah makan kian banyak. Yang namanya rumah makan alias resto idealnya sih ditata apik secara estetika, juga secara psikologi agar mampu memancing nafsu orang untuk makan dan makan. Tapi bagi sebagian orang, sebuah ruangan dengan rancang yang mengindahkan dua hal tadi ternyata justru tak diperlukan. Sebab, kadang-kadang etika makan pun harus diatur agar mengikuti tata tertib acara santap makanan itu sendiri. Misalnya, kaki tak boleh nangkring di kursi kecuali di warung. Bahkan sekarang warteg pun tak lagi memakai kursi kayu panjang, biar lebih efisien tempat, dan mengurangi budaya kaki nangkring tadi. Lalu sebelum sajian datang, Anda harus menaruh serbet di leher  mengikuti aturan makan oarang Eropa. Wih, makan saja terlalu banyak aturan, sementara yang namanya makan ujung-ujungnya hanya satu, perut kenyang, pikiran sehat karena sudah disuplai lagi energinya. Jadi restoran yang menjual interior mewah dengan kursi dan meja yang serba kaku menurut saya tak perlu lagi, orang harusnya lebih bebas mengekspresikan acara makannya. Apalagi di kantor ketika makan siang tiba. Makan di warteg pun menjadi acara rutin. Memilih restoran pastilah tak bisa dilakukan saban hari. Maka carilah tempat yang paling nyaman di kantor Anda. Di tangga darurat pun jadi. Di sini ada ritual komunikasi, ada social network, ada guyub, bahkan juga berbagi lauk. Kaki mau ke atas, selonjoran tak soal. Yang jauh lebih penting perut kelak tetap kenyang. Setuju?



SHELTER BUSWAY MAKAN TROTOAR
April 28, 2008, 8:49 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , , ,

(Jembatan busway di kedoya kebon jeruk, pemotretan memakai Nokia N81 8GB)

Begitu banyak yak harus dikorbankan oleh proyek busway Jakarta. Mengorbankan jalanan untuk dijadikan jalur khusus, mengorbankan kepadatan dan kemacetan yang menjadi-jadi. Sebuah temuan saya sewaktu menyusuri jalan kedoya kebon jeruk, pembangunan shelter busway ternyata juga memakan trotoar yang notabene sudah sempit. Saya tak habis pikir bagaimana orang bisa berjalan dan menikmati jalanan jika terhalang oleh jembatan. Sementara trotoar itu sendiri sebelumnya telah berubah fungsi menjadi lokasi para pedagang kaki lima. Sekarang menjadi jalur jembatan busway pula. Duh, bagaimana sih perencanaan dan riset yang dilakukan? Siapa yang bertanggungjawab? Tak jelas!



BUS MEMANG BERANTAKAN
April 28, 2008, 8:24 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , ,

Kecelakaan maut yang merenggut seorang perempuan SPG di jalan panjang kebon jeruk, Sabru 26 April 2008 bukan saja karena soal bahwa bus Debora mengalami keruasakan. Atau lantaran karena ada persoalan dengan perijinan KIR yang memang sudah buruk. Tapi juga lantaran begitu banyak sopir yang tidak awas lalu lintas. Mereka seperti para pemilik jalan.  Karena merasa bahwa kendaraan yang mereka bawa  berbodi besar, berkulit  keras, dengan seenak udelnya para sopir bus dan  metromini  “menjajah” jalanan.  Tapi celakanya  hal-hal seperti ini sering luput dari pantauan polisi lalu lintas atau DLLAJR yang menjadi  pengawas.

Sewaktu saya melakukan perjalanan dari Pasar Minggu ke Pancoran, berulang kali saya harus mengalah, lantaran kendaraan semacam metromini main potong jalur, kiri ke kanan dan sebaliknya. Lihatlah foto di atas. Mereka, para sopir dan kenek seperti sudah kebal telinganya, atas makian dan bunyi klakson mobil yang diserobotnya. Potret buramnya angkutan di Jakarta tak saja pada kondisi fisik kendaraan itu sendiri, tapi juga tingkah laku pengendaranya yang sangat menyebalkan. Itulah Jakarta. Kerja kejar setoran!



BUAT SIAPA API OLIMPIADE?
April 25, 2008, 4:46 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: ,

Chandra Widjaja wakil Indonesia (foto memakai Nokia N81 8 GB)

Chandra Widjaja wakil Indonesia (foto memakai Nokia N81 8 GB)

handra Widjaja wakil Indonesia (foto memakai Nokia N81 8 GB)

Pemandangan Jakarta, khususnya di kawasan Senayan dan sekitarnya, 22 April 2008 seperti tengah terjadi pertemuan para pemimpin dunia. Bagaimana tidak, kawasan itu amat steril penuh dengan penjagaan berlapis-lapis. Beberapa di antaranya; polisi (brimob, polantas), tentara (salah satunya paskhas TNI AU), satuan pengamanan, satpol PP, intel, hingga perkumpulan warga betawi. Yang ditunggu ternyata bukan sosok manusia, namun api yang kelak akan berwujud obor. Tentulah bukan sembarang si jago merah. Ia adalah api yang diambil dari Olympia, di datangkan ke Jakarta sebelum terbang ke Canberra (Australia). Ini api monumental yang disebut-sebut menjadi perangkul warga dunia. Ini api yang menjadi simbol pengobar semangat para atlet di seluruh dunia. Ini adalah api olimpiade. Dan, baru sekali ini mendatangi Jakarta selama berpuluh tahun Olimpiade musim panas itu digelar.

Indonesia tentu mengirimkan atletnya. Mereka adalah duta. Karena itu warga Indonesia ingin memompa semangat para dutanya. Api itu barangkali akan mengingatkan seluruh orang (khususnya di Jakarta) bahwa Indonesia ikut serta di ajang pesta olahraga terakbar. Maka mustinya warga tak dihalang-halangi atau dilarang bahkan melihat seperti apa api itu bergaya di jalanan ibukota.

Jangan kan warga. wartawan yang tugasnya meliput dan melaporkan bagaimana api itu dengan segala keriaannya pun tak diijinkan masuk. Padahal mereka sudah menunggu dan punya identitas. Jadi bagaimana berita tentang api bisa tersebar ke masyarakat yang kelak akan memberikan dukungan kepada duta atletnya.

Bendera Indonesia yang seharusnya berkibar lebih banyak pun nyaris dikalahkan oleh bendera asing. Gelora Bung Karno seperti menjadi milik warga asing. Jika ada yel-yel ini karena inisiatif para sponsor utama ajang ini. Tapi bukan secara langsung oleh masyarakat kebanyakan.

Untuk sebuah acara yang hanya berlangsung 3 jam, kita seperti kewalahan. Kita seperti tidak sedang berada di kampung sendiri. Aneh bin ajaib.



BUSWAY MEREK CAMRY B 8651 YT
April 25, 2008, 4:11 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , ,

Jumat, 25 April 2008. Jam masih menunjuk pukul 09.15 WIB. Dari perempatan Pejaten, saya menuju ke arah Mampang. Seperti biasa, jalur masuk busway  dijaga oleh dua elemen, polisi lalu lintas dan DLLAJR. Tidak begitu macet, menurut ukuran saya. Artinya laju kendaraan masih bisa dibejek sampai 40 hingga 50 km per jam. Jalur busway seperti biasa steril. Karena memang aturan sudah diberlakukan, rambu pun telah lama dipasang. Hanya busway yang boleh masuk. Di depan kira-kira gedung ACE HARDWARE tiba-tiba nyelonong sebuah mobil Nissan XTrail dengan sirene yang dibunyikan. Saya pikir memang saya harus mendahulukan mobil ini. Saya pun mencoba minggir. Tapi rupanya si Nissan tak mau memanfaatkan jalan yang saya relakan.

Apa yang terjadi?

Ia masuk ke jalur busway yang jelas-jelas ada tanda larangan alias forboden. Oh my god! Siapa pula mahluk di belakang Nissan itu? Rupanya ada busway baru, mereknya Toyota Camry dengan nomor polisi B 8651YT. Saya langsung tersenyum dan dalam hati bilang “mampus lu! bakal kegep polisi!” Paling tidak di depan gedung Mobisel atau lokasi U Turn di mana polisi pasti tak akan tinggal diam.

Saya melihat dua petugas, satu polisi, satu DLLAJR tepat di U turn. Kali ini saya terkejut lagi dan bilang oh my god lagi. Cuma tak ada senyum sekarang. Lantaran pak polisi yang gagah itu malah memberi hormat kepada pengendara Nissan. Ia seolah memberikan jalan kepadanya. Sedang si petugas DLLAJR cuma diam.

Oh my God! Ini negeri apa sih?

Jika saya mengendarai motor dan membawa kamera, saya akan kejar dan akan melakukan dua hal:

1. Menanyakan kepada polisi penjaga busway, hanya untuk menanyakan, “Anda dibayar untuk diam?”

2. Menguber si Camry dan memotretnya. Jika ia berhenti, maka saya akan menjabat tangan di penumpang dan memberinya selamat, “Anda hebat, bisa lolos dari peraturan.”

Thats all. Salam keren dari saya buat pemilik Camry B 8651 YT beserta pengawalnya. Juga pak polisi yang pada jam 09.15 berjaga di U trun depan gedung mobisel. Sumpah, saya tambah bingung dan makin tidak respek!



“STASIUN” or “TERMINAL” SOEKARNO HATTA
April 14, 2008, 7:44 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: ,

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik sempat berujar saat melakukan rilis sebuah produk voucher seluler bergambar lokasi dan atraksi wisata Indonesia, bahwa program Visit Indonesia Year 2008 tak mungkin jalan kalau sejumlah sarana dan prasarana tak mendukung. Ia menyebut salah satunya adalah faktor bandara yang merupakan pintu gerbang para wisatawan manca. Faktor kondisi keamanan dan faktor alami pun memegang peranan penting. Bagaimana mungkin wisawatan asing mau keluyuran di Jakarta bila kota ini banjir di mana-mana dan macetnya luar biasa.

Saya tidak hendak membicarakan ucapan Pak Wacik. Saya mendukung apa yang ia sampaikan, khususnya soal bandara terbesar punya negeri kita itu. Di atas lahan yang sangat luas, bandara Soekarno Hatta (Soetta) sudah berubah pemandangannya. Sekarang, saya susah membedakan antara stasiun kereta, terminal bus, dan bandar udara pesawat. Yang saya pahami soal stasiun di Indonesia adalah sebuah kesemerawutan  antara  orang keluar dan masuk, antara antrean pembeli tiket dengan pedagang asongan, juga calo-calo yang berkeliaran. Kereta tidak jelas datang dan perginya. Tidak mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh jawatan perkeretaapian nasional.

Sementara membicarakan terminal lebih  ribet lagi.  Terminal antarkota  lebih seperti pasar pagi.  Jangankan bicara soal ketepatan jadwal  keberangkatan dan kedatangan bus,  pengaturan bus datang dan pergi saja selalu semerawut.

Mengitarai bandara Soetta ibarat berada di stasiun dan terminal. Semua pekerjaan di stasiun dan terminal dari penjaga tiket hingga calo tiket  beneran ada.  Ketidak tepatan jadwal juga ada.  Kesemerawutan  di loket-loket boarding pass  terminal dalam kota, persis seperti di stasiun.

Murahnya tiket pesawat (low budget airline) memang membuka lebih banyak orang untuk menaiki pesawat. Namun pihak pengelola lupa, bahwa semakin meningkat jumlah penumpang mustinya sarananya pun secara kuantitas mustinya juga meningkat. Kalau dulu jumlah kursi tak sebanyak sekarang, kali ini harusnya berkali lipat sebanding dengan jumlah penumpang yang hendak menaiki pesawat. Maka yang terjadi, orang-orang yang kelelahan itu pun duduk sekenanya di lantai (yang notabene memang lebih bersih ketimbang terminal atau stasiun yang pesing).

Dulu ketika baru saja dibuka, toilet, fasilitas duduk (boarding room), juga sarana lain begitu bersih dan rapi. Sekarang, memasuki toilet (bahkan terminal luar negeri) kita harus senantiasa menutup hidung. Melihat bagaimana kran air dan salurannya yang bocor. Padahal bandara adalah satu-satunya lokasi untuk bepergian yang “dihidupi” oleh para penumpang. Mereka membayar pajak yang tidak murah agar bandara selalu bersih, asri, indah, dan enak dipandang, pun tidak macet ketika sampai atau mau keluar.

Bandara Soekarno Hatta memang sudah strategis.  Terlepas dari aksesnya yang kerap sulit (apalagi jika banjir  dan macet di jalan tol),  sarana ini  mungkin sudah tidak lagi akan berpindah. Seperti halnya Don Muang yang dipindah ke Svarna Bumi di Thailand atau bandara KLIA di Malaysia, juga HongKong yang kini benar-benar menjadi “potret” dari negeri dan kehidupan rakyatnya sendiri. Bandara Soekarno Hatta juga “potret”. Jadi kalau Anda warga asing yang hendak mempelajari “wajah” dan perilaku bangsa Indonesia, silakan melihat miniatur bernama bandara. Ya, wajah kita berada di bandara Soekarna Hatta yang lebih mirip stasiun kereta juga terminal bus.



TUGU EKS MONORAIL
April 11, 2008, 9:14 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: ,

Bagi orang yang baru datang ke Jakarta, ketika melewati Karet ke arah Petamburan, lalu menuju arteri seberang Palmerah, atau tepatnya di samping gedung Departemen Kehutanan, pasti langsung terkesima. Sebuah warisan mantan gubernur Sutiyoso berupa tonggak-tonggak beton bercokol seperti menyembul dari tanah.

Sesungguhnya kalau kita punya jiwa seni dan punya kemampuan mengapresiasi sebuah produk kesenian, maka kita akan sepakat mengatakan bahwa bangunan yang seolah tak tuntas ini seperti sebuah karya seni tingkat tinggi. Bagaimana tidak, di atasnya besi cor dibiarkan menjuntai mengarah ke angkasa. Posturnya solid, konsepnya seperti seni kontemporer.

Siapapun yang melewati pasti matanya akan segera melihat dan memelototi setiap tonggak demi tonggak. Tidak perlu marah atau geram, karena ini adalah sebuah patung. Jika Anda marah berarti Anda tak bisa mengapresiasi seni.

Kalau marahnya Anda lontarkan dulu, sewaktu proyek Jakarta Monorail itu sedang dibangun dari Karet menuju Senayan, wajar. Karena perjalanan Anda memang amat terganggu. Tapi jika Anda marah sekarang, jelas salah. Lagi pula marah kepada siapa? Si penanggungjawabnya saja sudah turun panggung.

Boleh saja marah, jika tiba-tiba Anda menyerempet tonggak itu karena disundul metromini. Atau ketika malam sekonyong-konyong di hadapan Anda berdiri tonggak yang amat kuat. Dan Anda, tak bisa menghindar, lalu brak! menubruknya.

Tapi Anda tak bisa menuntut atas celaka yang Anda alami. Lagi-lagi, kepada siapa? Mau protes agar tonggak beton itu dihancurkan saja, agar jalanan kembali seperti semula? Kepada siapa? Juga, kita pun tidak tahu monorail itu akan maju jalan atau bubar jalan?

Maka, saya memberikan saran kepada Anda warga Jakarta dan yang melewati jalan raya, anggap lah bahwa kita memiliki tugu baru. Tugu bernama  EKS MONORAIL . Biar rasa berkesenian kita lebih terasah, untuk mengapresiasi sebuah karya seni pemerintah daerah.



DUA KOTA TRAFFIC
April 4, 2008, 5:05 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , ,

Di Asia ini, selama saya melakukan perjalanan ke berbagai kotanya, hanya ada dua kota yang membuat saya sebal jika menaiki kendaraan. Pertama Bangkok. Kota ini dari dulu memang sudah dikenal sebagai the traffic city. Di pusat kota (downtown) seringkali kita terjebak oleh kepadatan dan kemacetan jalan. Kedua, Jakarta. Mirip alias setali tiga uang. Tapi jika dibanding Bangkok, jalanan di Jakarta sebenarnya lebih lebar, yang mustinya sih lebih lancar. Namun tidak. Macetnya jauh lebih sulit ditebak ketimbang Bangkok yang umumnya karena kepadatan. Jalan-jalan di sana beserta lampu lalu lintasnya tetap bekerja seperti biasa, namun karena jumlah kendaraan yang begitu meluber, maka kapasitas daya tampungnya pun tak bisa ditolerir. Jakarta, juga padata, tetapi kemcaetan biasanya bukan lantaran semata faktor kendaraan yang begitu banyak. Tapi lebih kepada fasilitas pendukung yang kerap kali tidak bekerja normal. Sebutlah lamu merah-kuning-hijau yang bisa berminggu-minggu ngadat, atau kondisi jalan yang berlubang sehingga membuat arus berjalan lamban.

Di Jakarta kita tidak punya pilihan. Mau pakai kendaraan moda apa saja tetap kena macet. Di Bangkok, kalau tak mau kena jebakan macet, ya pilihlah perahu yang membelah sungai sehingga dijamin bisa lebih lancar. Persoalan selesai.

Di Jakarta, tak ada persoalan yang selesai. Sementara mau jalan kaki saja repot dan ribut dengan kendaraan roda dua yang suka nyeruduk dan senggal-senggol seenak udel. Fasilitas bernama pedestrian itu hanya ada di komplek perumahan mewah. Di pusat kota, pedestrian seperti di Bangkok yang lebar sekali itu berjubel dengan penjaja kaki lima dan warung tenda.



SI MANIS JEMBATAN TIGA
Februari 21, 2008, 1:50 pm
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

Gue memang bukan saban hari lewat tol Ancol. Tapi paling tidak selama empat bulan terakhir ini, terdaftar sekitar lima kali melewati tol Ancol baik dari arah Grogol maupun dari arah Cawang. Selama lima kali dalam empat bulan itu, pastilah melewati kawasan Jembatan Tiga. Apa yang saya lihat dan rasakan selama kurun empat bulan itu masih sama. Macet akibat kondisi badan jalan yang “rapuh” akibat bekas kebakaran hebat di bawah tol tempo hari itu masih saja terjadi. Bagaimana tidak akan macet, jika tiga lajur mengerucut menjadi satu lajur. Bottle neck!

Maka gue berpikir sembari ngedumel ketika tadi (lagi-lagi) melewati jalan itu dan terjebak macet. Kok, begitu bodohnya saya melwati jalan itu lagi, jalan itu lagi. Kemarin sudah tahu bahwa di situ pasti stuck, kok ya nekat masih menjajal?

Lalu, berkecamuklah pikiran gue, di sela-sela mobil yang jalannya kayak keong. Sebenarnya yang bodoh bin goblok itu siapa? Saya dan orang-orang pengendara yang lewat situ atau siapa? Kalau iya kami yang bebal, bagaimana tingkat atau level kebebalan orang-orang yang tiap hari lewat situ?

Tapi gue rasa, orang-orang yang saban lewat  jalur itu sudah tak bego lagi. Mereka sudah pintar setelah saban hari merasa bodoh. Paling tidak pintar mengatur emosinya agar tak meledak. Juga pintar mengolahnya hingga menjadi sabar dengan tingkatan yang -mungkin- sudah sangat tinggi.

Mereka tidak protes kepada pemilik otoritas dan pengelola jalanan. Mereka membayar tarif yang sudah dinaikkan, tetapi harus rela menempuh kemacetan, sebuah kondisi yang sama sekali justru bertentangan dengan konsep jalan tol alias bebas hambatan di mana pun. Macet sekali bisa dimengerti. Macet dua kali bisa dipahami. Macet ketiga -mungkin- masih bisa diterima. Lebih dari itu, dalam tempo sepanjang hari dan setiap hari selama lebih dari empat bulan, apa iya masih bisa?

Ah, gue salut dengan orang-orang Jakarta itu. Sekaligus gue bersyukur karena gue bukan termasuk penyabar seperti mereka, dan lebih bersyukur karena kantor gue tak harus melewati “si Manis Jembatan Tiga”.

Jembatan Tiga benar-benar menjadi mimpi buruk bagi pengguna jalan. Tak ada informasi sampai kapan mereka harus tetap mengelus dada agar terus sabar dengan kecepatan kendaraan cuma 5 km/jam.

Jembatan Tiga adalah akses paling cepat ke bandara Soekarno Hatta bagi warga Kelapa Gading, Rawamangun, dan sekitarnya.

Sampai kapan mimpi buruk ini akan berakhir?



SIAPA BILANG KEMANG MEWAH?
Februari 20, 2008, 10:21 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , ,

Dari dulu sampai sekarang, saya selalu bingung dengan orang-orang yang bilang salah satu kawasan mewah di Jakarta itu adalah Kemang. Orang bilang, di situlah para ekspatriat kebanyakan tinggal. Di sanalah berdiri berbagai jenis hiburan siang dan malam bermunculan. Tempat jajan yang variatif, tempat hang out yang komplet, tempat nongkrong yang beragam.

Ah begitu rupanya Kemang dilihat dari satu sudut tentang kemewahan dan berbaurnya budaya timur dan barat yang sering dikonotasikan oleh orang timur sebagai perilaku modern.

Saya melihat Kemang secara keseluruhan. Antara yang positif dan negatif. Yang baik dan buruk. Kemang memang menjadi sebuah pusat integrasi antarbudaya. Oleh sebab itu, tak heran jika aroma Melayu, India, China, Eropa, Latin, dan Amerika tercium di situ. Di sana pula membuat orang kemudian harus kreatif menghasilkan sesuatu dalam bentuk barang dan jasa, karena berbagai bangsa bertemu di sana. Rasanya warga sekitar boleh bersyukur oleh munculnya kreativitas yang kelak memberi penghidupan dan kehidupan baginya.

Tapi lihatlah, begitu banyak orang, dari warga biasa, warga lokal, warga luar, pemerintah kawasan, swasta sekitar, alpa. Mereka memiliki kaca mata yang sama tentang Kemang. Melihat Kemang sebagai sebuah kawasan budaya campuran dan hiburan. Maka industri jasa resto, cafe, duty free, perabotan rumah etnik dan modern, massage, dan sejenisnya menjadi subur.

Saking suburnya itu, mereka lupa bahwa Kemang hanyalah sebuah kawasan bertanah yang luasnya pun tidak akan bertambah. Coba Anda cari data zaman Belanda, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, pasti luasnya Kemang ya segitu-gitu juga. Namun inustri yang membutuhkan ketersediaan lahan terus bertambah. Ketika bangunan yang merupakan perlambang industri itu bertumbuh, logikanya orang yang tinggal, mampir, atau sekadar lewat pun juga semakin bertambah. Ketika semakin banyak orang melewatinya, maka kebutuhan transportasi pun juga bertambah. Fasilitas memang serbalengkap di Kemang. Mau apa ada tersedia.

Tapi menikmati keserbalengkapan itu ternyata tidak mudah. Lantaran untuk menuju dari satu tempat ke tempat lain memang benar-benar susah. Tak gampang bergerak bebas di Kemang, apa lagi pada pagi, siang, dan sore. Padat kadang tak merayap.

Lebar jalan di Kemang, dari dulu sampai sekarang masih lah segitu-gitu juga. Dari arah jalan Bangka segitu, dari arah Prapanca segitu juga (dan masih menurun tuh), dari arah Ampera atau Pejaten, ya segitu juga.

Maka, saya melihat sebuah fenomena baru. Ternyata berbisnis di Kemang sudah tidak nyaman lagi. Tidak seenak dulu. Tentu bukan semata karena faktor krisis ekonomi, tapi karena sudah banyak orang ogah ke Kemang apa lagi pada jam-jam sibuk. Kafe memang masih hidup, karena “hidup” di malam hari yang mulai menyepi. Tapi bagaimana dengan para pedagang patung, furnitur, lukisan, pernak-pernik rumah? Mereka celaka 13, karena harus buka pagi hingga siang, di kawasan yang sudah terlanjur dicap macet. Boro-boro masuk ke toko, buat parkir saja sudah susah, yang ada ogah. Maka yang namanya mewah hanya berlaku bagi segelintir orang saja. Bagi para pedagang -yang mungkin orang setempat- sudah tidak bakal menjadikan kantung dan tabungan mereka “mewah”.