Cintajakarta’s Weblog


SI MANIS JEMBATAN TIGA
Februari 21, 2008, 1:50 pm
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

Gue memang bukan saban hari lewat tol Ancol. Tapi paling tidak selama empat bulan terakhir ini, terdaftar sekitar lima kali melewati tol Ancol baik dari arah Grogol maupun dari arah Cawang. Selama lima kali dalam empat bulan itu, pastilah melewati kawasan Jembatan Tiga. Apa yang saya lihat dan rasakan selama kurun empat bulan itu masih sama. Macet akibat kondisi badan jalan yang “rapuh” akibat bekas kebakaran hebat di bawah tol tempo hari itu masih saja terjadi. Bagaimana tidak akan macet, jika tiga lajur mengerucut menjadi satu lajur. Bottle neck!

Maka gue berpikir sembari ngedumel ketika tadi (lagi-lagi) melewati jalan itu dan terjebak macet. Kok, begitu bodohnya saya melwati jalan itu lagi, jalan itu lagi. Kemarin sudah tahu bahwa di situ pasti stuck, kok ya nekat masih menjajal?

Lalu, berkecamuklah pikiran gue, di sela-sela mobil yang jalannya kayak keong. Sebenarnya yang bodoh bin goblok itu siapa? Saya dan orang-orang pengendara yang lewat situ atau siapa? Kalau iya kami yang bebal, bagaimana tingkat atau level kebebalan orang-orang yang tiap hari lewat situ?

Tapi gue rasa, orang-orang yang saban lewat  jalur itu sudah tak bego lagi. Mereka sudah pintar setelah saban hari merasa bodoh. Paling tidak pintar mengatur emosinya agar tak meledak. Juga pintar mengolahnya hingga menjadi sabar dengan tingkatan yang -mungkin- sudah sangat tinggi.

Mereka tidak protes kepada pemilik otoritas dan pengelola jalanan. Mereka membayar tarif yang sudah dinaikkan, tetapi harus rela menempuh kemacetan, sebuah kondisi yang sama sekali justru bertentangan dengan konsep jalan tol alias bebas hambatan di mana pun. Macet sekali bisa dimengerti. Macet dua kali bisa dipahami. Macet ketiga -mungkin- masih bisa diterima. Lebih dari itu, dalam tempo sepanjang hari dan setiap hari selama lebih dari empat bulan, apa iya masih bisa?

Ah, gue salut dengan orang-orang Jakarta itu. Sekaligus gue bersyukur karena gue bukan termasuk penyabar seperti mereka, dan lebih bersyukur karena kantor gue tak harus melewati “si Manis Jembatan Tiga”.

Jembatan Tiga benar-benar menjadi mimpi buruk bagi pengguna jalan. Tak ada informasi sampai kapan mereka harus tetap mengelus dada agar terus sabar dengan kecepatan kendaraan cuma 5 km/jam.

Jembatan Tiga adalah akses paling cepat ke bandara Soekarno Hatta bagi warga Kelapa Gading, Rawamangun, dan sekitarnya.

Sampai kapan mimpi buruk ini akan berakhir?



SIAPA BILANG KEMANG MEWAH?
Februari 20, 2008, 10:21 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , ,

Dari dulu sampai sekarang, saya selalu bingung dengan orang-orang yang bilang salah satu kawasan mewah di Jakarta itu adalah Kemang. Orang bilang, di situlah para ekspatriat kebanyakan tinggal. Di sanalah berdiri berbagai jenis hiburan siang dan malam bermunculan. Tempat jajan yang variatif, tempat hang out yang komplet, tempat nongkrong yang beragam.

Ah begitu rupanya Kemang dilihat dari satu sudut tentang kemewahan dan berbaurnya budaya timur dan barat yang sering dikonotasikan oleh orang timur sebagai perilaku modern.

Saya melihat Kemang secara keseluruhan. Antara yang positif dan negatif. Yang baik dan buruk. Kemang memang menjadi sebuah pusat integrasi antarbudaya. Oleh sebab itu, tak heran jika aroma Melayu, India, China, Eropa, Latin, dan Amerika tercium di situ. Di sana pula membuat orang kemudian harus kreatif menghasilkan sesuatu dalam bentuk barang dan jasa, karena berbagai bangsa bertemu di sana. Rasanya warga sekitar boleh bersyukur oleh munculnya kreativitas yang kelak memberi penghidupan dan kehidupan baginya.

Tapi lihatlah, begitu banyak orang, dari warga biasa, warga lokal, warga luar, pemerintah kawasan, swasta sekitar, alpa. Mereka memiliki kaca mata yang sama tentang Kemang. Melihat Kemang sebagai sebuah kawasan budaya campuran dan hiburan. Maka industri jasa resto, cafe, duty free, perabotan rumah etnik dan modern, massage, dan sejenisnya menjadi subur.

Saking suburnya itu, mereka lupa bahwa Kemang hanyalah sebuah kawasan bertanah yang luasnya pun tidak akan bertambah. Coba Anda cari data zaman Belanda, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, pasti luasnya Kemang ya segitu-gitu juga. Namun inustri yang membutuhkan ketersediaan lahan terus bertambah. Ketika bangunan yang merupakan perlambang industri itu bertumbuh, logikanya orang yang tinggal, mampir, atau sekadar lewat pun juga semakin bertambah. Ketika semakin banyak orang melewatinya, maka kebutuhan transportasi pun juga bertambah. Fasilitas memang serbalengkap di Kemang. Mau apa ada tersedia.

Tapi menikmati keserbalengkapan itu ternyata tidak mudah. Lantaran untuk menuju dari satu tempat ke tempat lain memang benar-benar susah. Tak gampang bergerak bebas di Kemang, apa lagi pada pagi, siang, dan sore. Padat kadang tak merayap.

Lebar jalan di Kemang, dari dulu sampai sekarang masih lah segitu-gitu juga. Dari arah jalan Bangka segitu, dari arah Prapanca segitu juga (dan masih menurun tuh), dari arah Ampera atau Pejaten, ya segitu juga.

Maka, saya melihat sebuah fenomena baru. Ternyata berbisnis di Kemang sudah tidak nyaman lagi. Tidak seenak dulu. Tentu bukan semata karena faktor krisis ekonomi, tapi karena sudah banyak orang ogah ke Kemang apa lagi pada jam-jam sibuk. Kafe memang masih hidup, karena “hidup” di malam hari yang mulai menyepi. Tapi bagaimana dengan para pedagang patung, furnitur, lukisan, pernak-pernik rumah? Mereka celaka 13, karena harus buka pagi hingga siang, di kawasan yang sudah terlanjur dicap macet. Boro-boro masuk ke toko, buat parkir saja sudah susah, yang ada ogah. Maka yang namanya mewah hanya berlaku bagi segelintir orang saja. Bagi para pedagang -yang mungkin orang setempat- sudah tidak bakal menjadikan kantung dan tabungan mereka “mewah”.



TRAFFIC LIGHT TAK TERURUS
Februari 20, 2008, 9:57 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Sudah hampir sebulan lebih saya melewati jalan Ampera, Jakarta Selatan saban hari, setiap pagi. Dari Ampera menuju ke pertigaan Pejaten dan Kemang. Tapi baru seminggu ini pertigaan itu menjelma menjadi seperti kawasan terminal. Mobil, motor, angkot, metromini dari berbagai arah saling berebut jalan. Sebelumnya saya tak pernah melihat dan menikmati “pemandangan” seperti ini.  Selidik punya selidik ternyata persoalannya  akibat lampu merah yang sama sekali tak berkedip alias tidak bekerja sebagaimana biasa.

Traffic light mati di Jakarta sudah biasa. Artinya memang biasanya mati – hidup. Tapi menjadi luar biasa karena berlangsung dala tempo lebih dari dua hari. Dengan kata lain selama lebih dari dua hari itu penanggungjawab  perlampumerahan di Jakarta, khususnya yang mewewenangi kawasan itu sama sekali tidak melakukan tindakan apa-apa. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

Lagi-lagi, ini Jakarta bung, di mana kerusakan lebih sering ketimbang perbaikan. Efek apa yangterjadi dari hanya sekadar lampu merah mati total bukan saja macet, tapi juga menimbulkan saling tidak peduli, mau menang sendiri, serobot-menyerobot tak terhindari. Seseorang yang tadinya tertib berlalulintas menjadi ogah karena ia berarti tak bakal punya kesempatan jalan. Menunggu arus kendaraan dari arah lain mengalir sama artinya memarkir kendaraan di lokasi itu. Jelas lah, karena mana mungkin arus dari arah lain mau berhenti?

Lagi cerita di jalan lain, masih di sekitar0sekitar situ0situ juga. Tepatnya di perempatan Kemang, tepat di depan resto McDonald. Yang ini lebih “keren” lagi, karena saban saya lewat situ, eh masih mati dan mati lagi. Hitung-hitung waktu, lebih dari dua minggu lampu merah vital itu ogah kerja. Jalanan sempit (tadinya sih lebar, gara-gara banyak mobil jadi sempit) segera menjadi “terminal” lagi. Seruduk kendaraan benar-benar membuat dada harus sering dielus-elus biar emosi tak berontak.

Saya kemudian mencoba berpikir menjadi seorang ahli perlampuan dan perlistrikan. Berbekal sedikit teori elektro waktu sekolah dulu, saya pikir tidak ada yang susah pada jaringan listrik yang menjadi modal bekerjanya sistem lampu lalu lintas.  Kecuali bahwa pemonopoli listrik alias PLN memang tak memberinya arus. Tapi mustinya tidak, karena sumber listrik buat menghidupkan dan menjalankan kinerja lampu lalu lintas berasal dari sekitar situ juga. Sementara lampu di sekitarnya tak ada masalah alias nyala. Jadi sebenarnya bukan berasal dari sumber listrik. Analisa saya kemungkinan besar berasal dari sistem dan jaringan lokal pada traffic light tersebut. Maka persoalan sebenarnya menjadi lebih sederhana, karena tinggal melihat apa dan di mana penyebab kerusakan.

Sekarang saya menjadi pengamat sosial saja. Rupanya, menurut kaca mata saya (sekarang jadi pemerhati) bukan terletak pada sistem atau sumber listrik, tapi pada watak, kemauan, kesigapan, dan (keuangan) lembaga yang ditugasi mengelola lampu merah itu.

Lampu merah adalah fasilitas sosial yang vital. Jika rusak maka efeknya ke mana-mana, semua menjadi tidak teratur (lampu merah dibuat kan biar teratur). Nah, mustinya kontrol terhadap fasilitas sosial yang dibiayai oleh pajak itu menjadi tugasnya. Jika ada yang rusak segera betulkan. Jika tidak sempat tahu, beri informasi kepada siapapun pengguna jalan harus menginformasikan. Seperti kalau listrik padam saja, kita bisa men-call PLN menginformasikan dan menanyakan sebab musababnya.

Soal traffic light tidak seperti itu rupanya. Jadi, entah sudah dilaporkan oleh pengguna jalan atau tidak, pengelolanya tahu atau tidak, kita pun tidak pernah tahu. Mustinya mereka, para pengelola lampu itu, tak suka dengan kemacetan dan ketidaktertiban bin ketidakteraturan, tapi mengapa tak ada upaya untuk membereskan secuil hal kecil itu?



NASIB TOKO INDUSTRI BUDAYA
Februari 19, 2008, 1:29 pm
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Jika Anda sering melewati kawasan Casablanca ke arah Sudirman, tepatnya di sebelah kiri setelah pertokoan ITC Casablanca atau Mega Kuningan, pasti ada yang menarik perhatian, khususnya jika Anda peduli dengan kota kita terutama tentang kebudayaannya. Ternyata Jakarta memiliki produk kerajinan yang layak dikedepankan. Di ruang pamer sekaligus toko itulah berbagai kerajinan khas Jakarta itu dipertontonkan. Mulai dari pakaian khas, pernak-pernik, dan banyak lagi. Saya yakin orang Jakarta tulen (yang lahir di Jakarta maksudnya) jugakaum pendatang yang sudah lama tinggal, pasti terkaget-kaget karena kota kita punya produk budaya.

Fisik ruang pamer itu memang terkesan apa adanya. Bandingkan lah dengan potret produk fisik budaya Jakarta yang metropolis ini. Sungguh seperti bumi dan langit. Gedung-gedung pencakar langit yang serbagelas, tinggi menjulang, dan mencitrakan budaya kelas tinggi kontras dengan ruang pamer yang sebenarnya seperti etalase kebudayaan tradisional Jakarta.

Jakarta menjajakan budaya sebagai salah satu aset wisatanya. Produk kerajinan apa pun bentuknya (menjiplak atau tidak) adalah cindera mata paling populer bagi kaum turis. Saya rasa semua negara atau kota yang memiliki ciri khas dan keunikan akan memanfaatkannya sebagai sebuah cindera mata. Tapi ketika Anda ke Jakarta, sebuah kaos bertulis “JAKARTA” mungkin sangat susah ditemui, seperti halnya BALI, YOGYA (dengan dagadunya), SINGAPURA, BANGKOK, atau begitu mudahnya mencari kaos bertulis I LOVE NY. Semua tahu bahwa kotanya punya ciri dan hal itu adalah aset.



SEPARATOR BUSWAY
Februari 19, 2008, 12:12 pm
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Shelter-shelter belum pula berdiri. Bus-bus transJakarta pun belum  pula beraksi di sepanjang koridor-koridor baru. Tapi apa yang kita lihat sekarang adalah kerusakan separator yang mustinya justru menjadi perangkat paling vital untuk memisahkan jalur bus cepat itu dengan jalur umum. Misalnya saja di sepanjang jalur Cawang hingga Yos Sudarso, saya menemui separator yang memakai bahan beton kuat itu berserakan. Sungguh tak terbayangkan jika pada malam hari diseruduk sepeda motor. Lagi-lagi belum pula beroperasi tapi program ini sudah menyita korban, persis seperti separator ngaco yang dibikin tanpa melihat desain jalanan.

Bagaimana mungkin kontraktor tak memperhitungkan matang-matang dari soal bahan hingga kostruksi pemasangan. Lagi pula busway-busway itu pun belum beroperasi, yang kelak bisa saja separator beton setinggi kira-kira 15 cm itu bakal tercerai-berai dilindas roda busway.

Bagaimana pula dengan penanggungjawab proyek yang tentu berasal dari pemerintah daerah. Inspeksi di lapangan dengan mencermati konstruksi betapa pun sangat vital. Kita sedang mempertanyakan kualitas pembangunan infrastruktur busway yang sedang dalam pembuatan. Tapi yang kita lihat adalah riskannya konstruksi itu sendiri. Padahal bangunan yang dibuat tentu telah diperhitungkan sebagai sebuah aset kota kita tercinta Jakarta dalam tempo yang tidak sebentar.

Maka, jika kemudian muncul konspirasi yang berasal dari warganya sendiri, pertanyaan tentang biaya pembuatan, ungkapan-ungkapan  berupa kekonyolan tentang pembangunan sarana transport massal ini, tentu adalah sebuah kewajaran.

Pertanyaan ini mustinya dijawab oleh pemerintah daerah sebagai penanggungjawab. Jika tidak, saya amat yakin melahirkan rasa ketidakpercayaan.



Halo dunia!
Februari 19, 2008, 11:59 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!