Cintajakarta’s Weblog


SIAPA BILANG KEMANG MEWAH?
Februari 20, 2008, 10:21 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: , ,

Dari dulu sampai sekarang, saya selalu bingung dengan orang-orang yang bilang salah satu kawasan mewah di Jakarta itu adalah Kemang. Orang bilang, di situlah para ekspatriat kebanyakan tinggal. Di sanalah berdiri berbagai jenis hiburan siang dan malam bermunculan. Tempat jajan yang variatif, tempat hang out yang komplet, tempat nongkrong yang beragam.

Ah begitu rupanya Kemang dilihat dari satu sudut tentang kemewahan dan berbaurnya budaya timur dan barat yang sering dikonotasikan oleh orang timur sebagai perilaku modern.

Saya melihat Kemang secara keseluruhan. Antara yang positif dan negatif. Yang baik dan buruk. Kemang memang menjadi sebuah pusat integrasi antarbudaya. Oleh sebab itu, tak heran jika aroma Melayu, India, China, Eropa, Latin, dan Amerika tercium di situ. Di sana pula membuat orang kemudian harus kreatif menghasilkan sesuatu dalam bentuk barang dan jasa, karena berbagai bangsa bertemu di sana. Rasanya warga sekitar boleh bersyukur oleh munculnya kreativitas yang kelak memberi penghidupan dan kehidupan baginya.

Tapi lihatlah, begitu banyak orang, dari warga biasa, warga lokal, warga luar, pemerintah kawasan, swasta sekitar, alpa. Mereka memiliki kaca mata yang sama tentang Kemang. Melihat Kemang sebagai sebuah kawasan budaya campuran dan hiburan. Maka industri jasa resto, cafe, duty free, perabotan rumah etnik dan modern, massage, dan sejenisnya menjadi subur.

Saking suburnya itu, mereka lupa bahwa Kemang hanyalah sebuah kawasan bertanah yang luasnya pun tidak akan bertambah. Coba Anda cari data zaman Belanda, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, pasti luasnya Kemang ya segitu-gitu juga. Namun inustri yang membutuhkan ketersediaan lahan terus bertambah. Ketika bangunan yang merupakan perlambang industri itu bertumbuh, logikanya orang yang tinggal, mampir, atau sekadar lewat pun juga semakin bertambah. Ketika semakin banyak orang melewatinya, maka kebutuhan transportasi pun juga bertambah. Fasilitas memang serbalengkap di Kemang. Mau apa ada tersedia.

Tapi menikmati keserbalengkapan itu ternyata tidak mudah. Lantaran untuk menuju dari satu tempat ke tempat lain memang benar-benar susah. Tak gampang bergerak bebas di Kemang, apa lagi pada pagi, siang, dan sore. Padat kadang tak merayap.

Lebar jalan di Kemang, dari dulu sampai sekarang masih lah segitu-gitu juga. Dari arah jalan Bangka segitu, dari arah Prapanca segitu juga (dan masih menurun tuh), dari arah Ampera atau Pejaten, ya segitu juga.

Maka, saya melihat sebuah fenomena baru. Ternyata berbisnis di Kemang sudah tidak nyaman lagi. Tidak seenak dulu. Tentu bukan semata karena faktor krisis ekonomi, tapi karena sudah banyak orang ogah ke Kemang apa lagi pada jam-jam sibuk. Kafe memang masih hidup, karena “hidup” di malam hari yang mulai menyepi. Tapi bagaimana dengan para pedagang patung, furnitur, lukisan, pernak-pernik rumah? Mereka celaka 13, karena harus buka pagi hingga siang, di kawasan yang sudah terlanjur dicap macet. Boro-boro masuk ke toko, buat parkir saja sudah susah, yang ada ogah. Maka yang namanya mewah hanya berlaku bagi segelintir orang saja. Bagi para pedagang -yang mungkin orang setempat- sudah tidak bakal menjadikan kantung dan tabungan mereka “mewah”.


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>