Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori
Sudah hampir sebulan lebih saya melewati jalan Ampera, Jakarta Selatan saban hari, setiap pagi. Dari Ampera menuju ke pertigaan Pejaten dan Kemang. Tapi baru seminggu ini pertigaan itu menjelma menjadi seperti kawasan terminal. Mobil, motor, angkot, metromini dari berbagai arah saling berebut jalan. Sebelumnya saya tak pernah melihat dan menikmati “pemandangan” seperti ini. Selidik punya selidik ternyata persoalannya akibat lampu merah yang sama sekali tak berkedip alias tidak bekerja sebagaimana biasa.
Traffic light mati di Jakarta sudah biasa. Artinya memang biasanya mati – hidup. Tapi menjadi luar biasa karena berlangsung dala tempo lebih dari dua hari. Dengan kata lain selama lebih dari dua hari itu penanggungjawab perlampumerahan di Jakarta, khususnya yang mewewenangi kawasan itu sama sekali tidak melakukan tindakan apa-apa. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?
Lagi-lagi, ini Jakarta bung, di mana kerusakan lebih sering ketimbang perbaikan. Efek apa yangterjadi dari hanya sekadar lampu merah mati total bukan saja macet, tapi juga menimbulkan saling tidak peduli, mau menang sendiri, serobot-menyerobot tak terhindari. Seseorang yang tadinya tertib berlalulintas menjadi ogah karena ia berarti tak bakal punya kesempatan jalan. Menunggu arus kendaraan dari arah lain mengalir sama artinya memarkir kendaraan di lokasi itu. Jelas lah, karena mana mungkin arus dari arah lain mau berhenti?
Lagi cerita di jalan lain, masih di sekitar0sekitar situ0situ juga. Tepatnya di perempatan Kemang, tepat di depan resto McDonald. Yang ini lebih “keren” lagi, karena saban saya lewat situ, eh masih mati dan mati lagi. Hitung-hitung waktu, lebih dari dua minggu lampu merah vital itu ogah kerja. Jalanan sempit (tadinya sih lebar, gara-gara banyak mobil jadi sempit) segera menjadi “terminal” lagi. Seruduk kendaraan benar-benar membuat dada harus sering dielus-elus biar emosi tak berontak.
Saya kemudian mencoba berpikir menjadi seorang ahli perlampuan dan perlistrikan. Berbekal sedikit teori elektro waktu sekolah dulu, saya pikir tidak ada yang susah pada jaringan listrik yang menjadi modal bekerjanya sistem lampu lalu lintas. Kecuali bahwa pemonopoli listrik alias PLN memang tak memberinya arus. Tapi mustinya tidak, karena sumber listrik buat menghidupkan dan menjalankan kinerja lampu lalu lintas berasal dari sekitar situ juga. Sementara lampu di sekitarnya tak ada masalah alias nyala. Jadi sebenarnya bukan berasal dari sumber listrik. Analisa saya kemungkinan besar berasal dari sistem dan jaringan lokal pada traffic light tersebut. Maka persoalan sebenarnya menjadi lebih sederhana, karena tinggal melihat apa dan di mana penyebab kerusakan.
Sekarang saya menjadi pengamat sosial saja. Rupanya, menurut kaca mata saya (sekarang jadi pemerhati) bukan terletak pada sistem atau sumber listrik, tapi pada watak, kemauan, kesigapan, dan (keuangan) lembaga yang ditugasi mengelola lampu merah itu.
Lampu merah adalah fasilitas sosial yang vital. Jika rusak maka efeknya ke mana-mana, semua menjadi tidak teratur (lampu merah dibuat kan biar teratur). Nah, mustinya kontrol terhadap fasilitas sosial yang dibiayai oleh pajak itu menjadi tugasnya. Jika ada yang rusak segera betulkan. Jika tidak sempat tahu, beri informasi kepada siapapun pengguna jalan harus menginformasikan. Seperti kalau listrik padam saja, kita bisa men-call PLN menginformasikan dan menanyakan sebab musababnya.
Soal traffic light tidak seperti itu rupanya. Jadi, entah sudah dilaporkan oleh pengguna jalan atau tidak, pengelolanya tahu atau tidak, kita pun tidak pernah tahu. Mustinya mereka, para pengelola lampu itu, tak suka dengan kemacetan dan ketidaktertiban bin ketidakteraturan, tapi mengapa tak ada upaya untuk membereskan secuil hal kecil itu?
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>