Di Asia ini, selama saya melakukan perjalanan ke berbagai kotanya, hanya ada dua kota yang membuat saya sebal jika menaiki kendaraan. Pertama Bangkok. Kota ini dari dulu memang sudah dikenal sebagai the traffic city. Di pusat kota (downtown) seringkali kita terjebak oleh kepadatan dan kemacetan jalan. Kedua, Jakarta. Mirip alias setali tiga uang. Tapi jika dibanding Bangkok, jalanan di Jakarta sebenarnya lebih lebar, yang mustinya sih lebih lancar. Namun tidak. Macetnya jauh lebih sulit ditebak ketimbang Bangkok yang umumnya karena kepadatan. Jalan-jalan di sana beserta lampu lalu lintasnya tetap bekerja seperti biasa, namun karena jumlah kendaraan yang begitu meluber, maka kapasitas daya tampungnya pun tak bisa ditolerir. Jakarta, juga padata, tetapi kemcaetan biasanya bukan lantaran semata faktor kendaraan yang begitu banyak. Tapi lebih kepada fasilitas pendukung yang kerap kali tidak bekerja normal. Sebutlah lamu merah-kuning-hijau yang bisa berminggu-minggu ngadat, atau kondisi jalan yang berlubang sehingga membuat arus berjalan lamban.
Di Jakarta kita tidak punya pilihan. Mau pakai kendaraan moda apa saja tetap kena macet. Di Bangkok, kalau tak mau kena jebakan macet, ya pilihlah perahu yang membelah sungai sehingga dijamin bisa lebih lancar. Persoalan selesai.
Di Jakarta, tak ada persoalan yang selesai. Sementara mau jalan kaki saja repot dan ribut dengan kendaraan roda dua yang suka nyeruduk dan senggal-senggol seenak udel. Fasilitas bernama pedestrian itu hanya ada di komplek perumahan mewah. Di pusat kota, pedestrian seperti di Bangkok yang lebar sekali itu berjubel dengan penjaja kaki lima dan warung tenda.
Tidak ada Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>