Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik sempat berujar saat melakukan rilis sebuah produk voucher seluler bergambar lokasi dan atraksi wisata Indonesia, bahwa program Visit Indonesia Year 2008 tak mungkin jalan kalau sejumlah sarana dan prasarana tak mendukung. Ia menyebut salah satunya adalah faktor bandara yang merupakan pintu gerbang para wisatawan manca. Faktor kondisi keamanan dan faktor alami pun memegang peranan penting. Bagaimana mungkin wisawatan asing mau keluyuran di Jakarta bila kota ini banjir di mana-mana dan macetnya luar biasa.
Saya tidak hendak membicarakan ucapan Pak Wacik. Saya mendukung apa yang ia sampaikan, khususnya soal bandara terbesar punya negeri kita itu. Di atas lahan yang sangat luas, bandara Soekarno Hatta (Soetta) sudah berubah pemandangannya. Sekarang, saya susah membedakan antara stasiun kereta, terminal bus, dan bandar udara pesawat. Yang saya pahami soal stasiun di Indonesia adalah sebuah kesemerawutan antara orang keluar dan masuk, antara antrean pembeli tiket dengan pedagang asongan, juga calo-calo yang berkeliaran. Kereta tidak jelas datang dan perginya. Tidak mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh jawatan perkeretaapian nasional.
Sementara membicarakan terminal lebih ribet lagi. Terminal antarkota lebih seperti pasar pagi. Jangankan bicara soal ketepatan jadwal keberangkatan dan kedatangan bus, pengaturan bus datang dan pergi saja selalu semerawut.
Mengitarai bandara Soetta ibarat berada di stasiun dan terminal. Semua pekerjaan di stasiun dan terminal dari penjaga tiket hingga calo tiket beneran ada. Ketidak tepatan jadwal juga ada. Kesemerawutan di loket-loket boarding pass terminal dalam kota, persis seperti di stasiun.
Murahnya tiket pesawat (low budget airline) memang membuka lebih banyak orang untuk menaiki pesawat. Namun pihak pengelola lupa, bahwa semakin meningkat jumlah penumpang mustinya sarananya pun secara kuantitas mustinya juga meningkat. Kalau dulu jumlah kursi tak sebanyak sekarang, kali ini harusnya berkali lipat sebanding dengan jumlah penumpang yang hendak menaiki pesawat. Maka yang terjadi, orang-orang yang kelelahan itu pun duduk sekenanya di lantai (yang notabene memang lebih bersih ketimbang terminal atau stasiun yang pesing).
Dulu ketika baru saja dibuka, toilet, fasilitas duduk (boarding room), juga sarana lain begitu bersih dan rapi. Sekarang, memasuki toilet (bahkan terminal luar negeri) kita harus senantiasa menutup hidung. Melihat bagaimana kran air dan salurannya yang bocor. Padahal bandara adalah satu-satunya lokasi untuk bepergian yang “dihidupi” oleh para penumpang. Mereka membayar pajak yang tidak murah agar bandara selalu bersih, asri, indah, dan enak dipandang, pun tidak macet ketika sampai atau mau keluar.
Bandara Soekarno Hatta memang sudah strategis. Terlepas dari aksesnya yang kerap sulit (apalagi jika banjir dan macet di jalan tol), sarana ini mungkin sudah tidak lagi akan berpindah. Seperti halnya Don Muang yang dipindah ke Svarna Bumi di Thailand atau bandara KLIA di Malaysia, juga HongKong yang kini benar-benar menjadi “potret” dari negeri dan kehidupan rakyatnya sendiri. Bandara Soekarno Hatta juga “potret”. Jadi kalau Anda warga asing yang hendak mempelajari “wajah” dan perilaku bangsa Indonesia, silakan melihat miniatur bernama bandara. Ya, wajah kita berada di bandara Soekarna Hatta yang lebih mirip stasiun kereta juga terminal bus.
Tidak ada Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>