Ekonomi memang lagi sulit, tapi yang namanya makan agaknya nggak ada kaitannya sama soal ekonomi. Buktinya belakangan ini restoran makin bejibun, rumah makan kian banyak. Yang namanya rumah makan alias resto idealnya sih ditata apik secara estetika, juga secara psikologi agar mampu memancing nafsu orang untuk makan dan makan. Tapi bagi sebagian orang, sebuah ruangan dengan rancang yang mengindahkan dua hal tadi ternyata justru tak diperlukan. Sebab, kadang-kadang etika makan pun harus diatur agar mengikuti tata tertib acara santap makanan itu sendiri. Misalnya, kaki tak boleh nangkring di kursi kecuali di warung. Bahkan sekarang warteg pun tak lagi memakai kursi kayu panjang, biar lebih efisien tempat, dan mengurangi budaya kaki nangkring tadi. Lalu sebelum sajian datang, Anda harus menaruh serbet di leherĀ mengikuti aturan makan oarang Eropa. Wih, makan saja terlalu banyak aturan, sementara yang namanya makan ujung-ujungnya hanya satu, perut kenyang, pikiran sehat karena sudah disuplai lagi energinya. Jadi restoran yang menjual interior mewah dengan kursi dan meja yang serba kaku menurut saya tak perlu lagi, orang harusnya lebih bebas mengekspresikan acara makannya. Apalagi di kantor ketika makan siang tiba. Makan di warteg pun menjadi acara rutin. Memilih restoran pastilah tak bisa dilakukan saban hari. Maka carilah tempat yang paling nyaman di kantor Anda. Di tangga darurat pun jadi. Di sini ada ritual komunikasi, ada social network, ada guyub, bahkan juga berbagi lauk. Kaki mau ke atas, selonjoran tak soal. Yang jauh lebih penting perut kelak tetap kenyang. Setuju?
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

aduuuh.. kasihan banget kaum marjinal ini? kira2 ini pekerja dari kantor mana ya? keliatan harus irit betul!!! siapa sih redaktur artistiknya?! wakakak!
Komentar oleh Angky Juli 24, 2008 @ 6:54 am